Marketing

Semakin Bagus Sebuah Iklan, Semakin Ia Tidak Terlihat Seperti Iklan

Semakin Bagus Sebuah Iklan, Semakin Ia Tidak Terlihat Seperti Iklan

Photo: Igor Klisov (CC BY 2.0) via Flickr

Selamat pagi, saya まさきん.

Dalam pekerjaan marketing, saya sering merasakan hal ini. Komunikasi yang menyatu dengan pengalaman brand itu sendiri, pada akhirnya lebih kuat dibanding iklan yang terlalu memaksa.

Berhenti berpikir dalam kotak “iklan”

Hanya dengan membuat website, nilai sebuah brand tidak lantas tercipta. Nilai baru muncul ketika tersampaikan mendalam dan dikenali oleh konsumen.

Yang penting di sini, jangan memikirkan program hanya dalam kotak “iklan”. Layanan pelanggan, kemasan, kenyamanan memakai aplikasi. Semua pengalaman yang benar-benar disentuh konsumen adalah bentuk penyampaian dari brand.

Perusahaan yang berhasil memaksimalkan pengalaman pelanggan biasanya punya sudut pandang pelanggan yang sangat konsisten, dan memakai digital sebagai “alat”, bukan tujuan. Digital itu sendiri tidak jadi tujuan, itu yang menurut saya jadi kesamaannya.

Kalau dipikir lagi, tautan referral ini mungkin juga logikanya sama. Bukan iklan yang mencolok, tapi sekadar cerita rekomendasi dari kenalan.

Simulasi yang bisa dicek tanpa perlu kontrak juga mungkin salah satu contoh yang tidak memaksa.

Simulasi tarif dapat 100 poin tanpa perlu kontrak Coba lihat cerita rekomendasi dari kenalan ini

Setelah diklik, halaman login Rakuten akan terbuka. Setelah login, detail kampanye akan muncul.

Contoh nyata “iklan yang tidak terasa seperti iklan” yang punya kekuatan

Contoh yang sering diangkat untuk paradoks ini adalah respons Muji di Jepang. Tahun 2013, sebuah organisasi lingkungan menggalang gerakan meminta penghentian penjualan sup sirip hiu. Muji merilis pernyataan pers yang membalas argumen itu secara langsung, dan tetap melanjutkan penjualan. Hasilnya, penjualan produk tersebut dilaporkan naik sekitar 4 kali lipat. Bukan lewat iklan yang keras, tapi hanya dengan menjelaskan posisi perusahaan secara jujur, hal itu sendiri jadi cerita yang menceritakan brand. Kejujuran yang konsisten seperti ini menurut saya juga berkaitan dengan kekuatan yang dimiliki ulasan atau word of mouth.

Contoh lain yang berkesan adalah kampanye #ImNoAngel dari brand pakaian dalam Amerika, Lane Bryant, lewat lini Cacique. Sebagai counter terhadap iklan brand kompetitor yang menonjolkan model dengan bentuk tubuh ideal, kampanye ini menampilkan orang-orang “biasa” dengan berbagai bentuk tubuh dan gaya, yang bercerita tentang “seksi versi mereka sendiri” lewat pakaian dalam mereka. Ketidakinginan untuk mempercantik justru jadi pesan yang kuat sebagai simbol.

Melihat contoh-contoh ini, saya teringat konsep “UX Maturity Model”. Model ini, yang diperkenalkan di majalah UX, merangkum tahap kematangan pengalaman pengguna, dari tahap “bisa dipakai” hingga akhirnya tahap “memberi kebahagiaan”. Iklan dan program marketing juga sama. Awalnya hanya cukup untuk menyampaikan fungsi dan informasi, tapi seiring matang, menyampaikan “kebahagiaan” itu sendiri jadi tujuan. Contoh Muji dan Lane Bryant terasa mewakili tahap kematangan itu.

Semakin banyak iklan di sebuah pasar, semakin canggih pula cara menyiasati “kebencian pada iklan”

Semakin sering konsumen bersentuhan dengan iklan, semakin kuat pula rasa menolak terhadap iklan itu sendiri. Di negara atau industri dengan volume iklan yang tinggi, ada banyak cara untuk mengelola ekspektasi konsumen lebih dulu, atau merapikan konteks penyampaian, demi meredakan rasa menolak itu.

Sambil tetap mengutamakan kejelasan, komunikasi berbasis pesan yang tidak dipercantik, seperti kontribusi sosial atau kepedulian lingkungan, justru menghasilkan efek yang lebih baik. Semakin teknik iklan kehilangan daya, kejujuran yang tidak bergantung pada teknik justru relatif jadi lebih kuat. Ini berkaitan dengan CRM yang sebenarnya soal tidak menciptakan “penjualan yang buruk” yang pernah saya tulis. Sikap mengutamakan kejujuran dibanding angka sesaat, pada akhirnya justru bertahan lama. Contoh Muji dan Lane Bryant juga terasa berada dalam alur yang sama.

Membagi segmen, menyampaikan dengan cermat

Tidak menyamaratakan semua pelanggan, tapi mengubah pesan sesuai tahap, mulai dari kesadaran, coba pakai, sampai repeat. Ini juga langkah penting untuk menghilangkan kesan “iklan”.

Penanganan personal satu per satu kadang kurang efisien, jadi lebih realistis membagi jadi beberapa tahap dan menumpuk program yang sesuai untuk masing-masing tahap. Hanya dengan mengubah pesan per tahap, penerima merasa “seperti sedang diajak bicara khusus untuk saya”, dan kesan memaksa dari iklan pun otomatis berkurang.

Tapi, pengetahuan yang didapat dari cara seperti itu sering hanya tersimpan di kepala satu orang tertentu. Menumpuknya sebagai sistem, dan menyiapkannya agar bisa dipakai lagi ke depan, menurut saya juga sama pentingnya.

Kalau perbedaan respons di setiap tahap dicatat dengan rapi, itu jadi pijakan untuk memikirkan program serupa berikutnya. Sistem yang menumpuk pengetahuan sebagai aset tim, bukan bergantung pada satu orang, sebenarnya sama pentingnya dan efektifnya dengan program menghilangkan kesan iklan itu sendiri, meski kelihatannya sepele.

Sekarang di tahun 2026, sudut pandang ini justru makin penting

Karena konten dari media sosial dan AI generatif makin banyak sekarang, nilai komunikasi yang menghilangkan kesan iklan justru makin meningkat dibanding sebelumnya.

Rasa “begitu tahu ini iklan, langsung dilewati” sepertinya makin kuat dibanding sebelumnya. Karena itu, penyampaian yang menyatu dengan pengalaman itu sendiri jadi relatif makin kuat. Contoh Muji dan Lane Bryant masih terus diceritakan sampai sekarang karena penyampaian mereka diterima konsumen bukan sebagai “iklan”, tapi sebagai sikap brand itu sendiri.

Karena AI generatif membuat siapa pun bisa memproduksi teks dan visual bergaya iklan secara massal, sebaliknya, kepekaan terhadap “kejujuran tanpa dipoles” justru meningkat di sisi konsumen. Kesempurnaan yang dibuat rapi mungkin kalah dibanding penyampaian yang agak kasar tapi terasa jujur, dalam hal tingkat kepercayaan yang didapat.

Kesimpulan

Blog ini juga saya coba tulis dengan sesedikit mungkin kesan promosi, sebagai pengalaman pribadi yang nyata. Semakin bagus sebuah penyampaian, semakin ia tidak terasa sebagai penyampaian. Baik di dunia marketing maupun dalam cerita kehidupan sehari-hari, akarnya mungkin sama saja.

Simulasi tarif dapat 100 poin tanpa perlu kontrak Lihat cerita rekomendasi dari kenalan yang minim kesan promosi

Setelah diklik, halaman login Rakuten akan terbuka. Setelah login, detail kampanye akan muncul.

Artikel ini mengandung iklan afiliasi. Jika Anda mendaftar produk atau layanan melalui tautan di situs ini, kami mungkin menerima komisi dari perusahaan mitra. Selain itu, pengelola adalah karyawan Rakuten Group dan mungkin menerima imbalan melalui program referral karyawan. Konten dan penilaian artikel dibuat berdasarkan pengalaman nyata dan riset pengelola, terlepas dari ada atau tidaknya iklan, namun kami harap Anda membaca dengan memahami hubungan di atas. Untuk detailnya, silakan lihat Sangkalan & Info Afiliasi. Sangkalan & Info Afiliasi

Artikel ini menggunakan terjemahan mesin. Untuk syarat resmi, silakan cek halaman multibahasa di situs resmi Rakuten Mobile.

Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang area jangkauan atau kondisi sinyal Rakuten Mobile, Anda dapat berkonsultasi melalui formulir permintaan perbaikan sinyal resmi.

ABOUT THE AUTHOR
まさきん

Karyawan Rakuten Group · Digital Marketer (memiliki sertifikasi FP)

Awal 40-an, kedua orang tua bekerja, ayah dari empat anak. Selain bekerja sebagai digital marketer di Rakuten Group, juga memanfaatkan sertifikasi perencana keuangan (FP) untuk fokus pada pengelolaan keuangan keluarga dan pembentukan aset.

Lihat Profil

Artikel Terkait

RELATED
3 Elemen Penting untuk 1to1 Marketing, Dilihat Ulang di Era AI Sekarang Marketing

3 Elemen Penting untuk 1to1 Marketing, Dilihat Ulang di Era AI Sekarang

Merangkum kembali kerangka lama yang membagi kebutuhan personalisasi jadi tiga, yaitu data, konten, dan logika. Saya juga memikirkan apa yang berubah dengan AI generatif.

2026.07.09 · sekitar 4 menit membaca
Memikirkan Ulang Pekerjaan Bernama 'Product Manager' Marketing

Memikirkan Ulang Pekerjaan Bernama 'Product Manager'

Terinspirasi dari podcast teknologi yang membahas jabatan product manager, saya memikirkan perbedaannya dengan peran-peran yang sudah ada sejak lama.

2026.07.08 · sekitar 3 menit membaca
Menurut Saya, Inti CRM Adalah Tidak Menciptakan 'Penjualan yang Buruk' Marketing

Menurut Saya, Inti CRM Adalah Tidak Menciptakan 'Penjualan yang Buruk'

Kata CRM dan loyalitas pelanggan mencakup rentang yang sangat luas, dari sekadar semangat hingga langkah konkret, sehingga definisinya sering kabur. Saya coba memikirkannya lagi dari sudut pandang 'tidak menciptakan penjualan yang buruk'.

2026.07.07 · sekitar 3 menit membaca
Beralih ke Rakuten Mobile, dapatkan hingga 14.000 poin Simulasi tarif dapat 100 poin tanpa perlu kontrak →
Daftar Sekarang →